Bencana alam terhebat sepanjang sejarah

Peshtigo Wildfire (Oct. 8, 1871)

 ImageAnda pasti belum pernah dengar bencana ini, tapi kebakaran liar yang terjadi di Peshtigo, Wis, menyebabkan hangusnya lebih dari 1 juta are tanah disana. Akhirnya pada October 1871, kebakaran liar ini dinobatkan sebagai kebakaran hebat sepanjang sejarah Amerika. Percikan api ditambah ayunan angin yang kencang sempat membuat “tornado of fire” di tempat kejadian, dan 1,200 orang dicatat telah menjadi korban.

Storm of the Century (March 12-15, 1993)

 Image

11 tornado, dengan kekuatan badai yang membawa bebatuan es, menghantam seluruh bagian Kanada, Amerika Serikat, dan Kuba, akhirnya karena kekuatan badai yang begitu besar, badai ini hingga sekarang disebut “superstorm“. Badai ini menyebabkan kerugian sebesar 6 milyar US$ dan menyebabkan jutaan korban selamat dan 300 korban meninggal.

Great Chilean Quake (May 22, 1960)

 Image

Meskipun gempa yang satu ini bukan gempa yang paling mematikan ataupun paling menghancurkan dalam sejarah, tapi dalam segi kekuatan, gempa ini memiliki kekuatan 9.5 magnitude dan juga menyebabkan Tsunami di Valdivia, Chili. Hasil dari gempa tersebut adalah 1,600 orang meninggal dan 2 juta orang korban selamat.

The Super Outbreak (April 3-4, 1974)The Super Outbreak (April 3-4, 1974)

Dari namanya saja sudah mengerikan, bagaimana dengan badainya? Yang hanya bisa dijelaskan pada saat itu adalah 148 tornado yang sedang memporak porandakan 13 negara bagian di Amerika. Badai ini tidak berlangsung dalam 1-2 jam saja, tapi berlangsung selama 24 jam penuh.

Akhirnya pada tahun 1974, berita resmi mengumumkan korban meninggal sebanyak 330 orang dan 5,000 orang terluka. Jika 148 tornado tersebut digabungkan, maka akan menghasilkan badai seluas 2,500 mil/segi.

Tangshan, Earthquake (1976)

Di banding gempa Sichuan yang terjadi pada tahun 2008 lalu (69,000 orang meninggal), gempa tersebut tidak bisa dibandingkan gempa Thangsan pada tahun 1976 di China. Gempa Thangsan menewaskan lebih dari 255,000 orang, bahkan melalui data resmi, korban meninggal ternyata dua kali lipat dari hasil tersebut. Gempa tersebut berkekuatan 7.5 SkalaRichter.

Pompeii (79 A.D)

Kejadian ini terjadi sekitar 2,000 tahun lalu, yaitu tahun 79 A.D. Ada sebuah Gunung berapi bernama Vesuvius yang akhirnya meletus pada hari itu selama 1 hari penuh, mengeluarkan abu dan zat racun yang sangat-sangat banyak hingga mengubur kota yang saat itu dinamakan Pompei (peristiwa ini dimanakan pyroclastic flow).

Krakatoa / Krakatau (Aug. 26-27, 1883)

Ketika Krakatau meledak di ledakan ke-4 pada August 1883, Gunung api itu melepaskan 3 kubik mil magma dan itu sama dengan kekuatan energi 1 bom atom. Letusannya terdengar hingga ribuan mil jauhnya. Ledakan Krakatau menggemparkan seluruh negara-negara lautan pasifik, ledakan tersebut menyebabkan seluruh Pulau Krakatau tenggelam hingga dasar laut dan menenggelamkan lebih dari 100 pulau disekitarnya.

Akibat dari letusan Krakatau, 36.000 korban meninggal, kebanyakan disebabkan oleh Tsunami. Abu dari ledakan Krakatau bahkan sampai ke New York melalui udara dan lautan, sehingga menyebabkan penurunan suhu di seluruh dunia selama setahun.

Hurricane Katrina and the 2005 Atlantic Hurricane Season

5 Jenis Badai Katrina yang langsung menghajar Gulf Coast pada August 2005 merupakan hal yang tidak asing lagi. Lebih dari 1,800 orang meninggal karena badai Katrina yang menghajar bangunan-bangunan disana yang dibangun tanpa bisa menahan badai tersebut.

80% daerah New Orleans tergenang oleh air dan daun-daun dari ranting pohon yang berterbangan sangat jauh. Merupakan sebuah peringatan dari alam agar selalu waspada akan bencana alam yang kita tidak akan pernah tahu kapan datangnya.

Indian Ocean Tsunami (Dec. 26, 2004)

Semua peristiwa ini diawali dengan gempa bumi yang sangat besar. Gempa yang berkekuatan 9.1 SkalaRichter itu mengguncang Sumatera, yang berada di kepulauan Indonesia. Gempa tersebut terjadi selama 8 menit yang mematikan. Bagaimanapun juga, gempa sebesar itu masih merupakan awal dari segala bencana.

Setelah beberapa saat, Tsunami yang tercatat terkuat dalam sejarah pun terbentuk dan menuju ke 14 negara berbeda. Korban tewas sebanyak 230,000 jiwa dan 1.7 juta orang korban selamat. Tinggi level air di dunia sempat naik drastis beberapa kaki dalam beberapa hari, hal tersebut akhirnya terukir dalam sejarah sebagai tsunami terkuat yang pernah ada.

“The Great Flood” (sometime a long, long time ago)

Mungkin saja ini kejadian sejarah atau cerita sejarah tentang kejadian pensucian seluruh dunia. Banjir yang sangat mematikan terjadi di seluruh dunia dan kepada seluruh ras di dunia. Banyak juga yang selamat berkat Noah’s Ark yang berlayar dengan ras Sumerian, Indian and Native American legends dan masih banyak lagi. Dan tentu saja ini merupakan salah satu legenda, yaitu seluruh dunia bersatu! Seluruh pendosa akan mati! Species akan terlahir ulang!

Rangkuman bencana alam Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah

Image

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah membutuhkan dana Rp 194,6 miliar untuk penanganan bencana Gunung Merapi, banjir bandang di Kabupaten Pati, dan mengevakuasi ratusan warga di Kabupaten Temanggung yang terancam longsor. Dana itu mendesak diperlukan mengingat tingkat curah hujan di daerah-daerah rawan banjir dan longsor itu sudah tinggi.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng Sarwa Pramana mengemukakan, penangananan Gunung Merapi membutuhkan dana Rp 83 miliar. Dana itu untuk membangun sarana dan prasarana serta korban banjir lahar dingin di Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten.

Sedangkan penanganan bencana banjir bandang yang melanda 10 desa di Kecamatan Sukolilo, Pati, membutuhkan dana Rp 7,6 miliar, untuk membangun jembatan darurat penghubung desa dan perbaikan sejumlah infrastruktur yang rusak.

“Di Kabupaten Temanggung, tepatnya di Desa Blawong Wetan, Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Temanggung, kami mengajukan dana Rp 4 miliar untuk merelokasi 115 keluarga yang terancam longsor. Saat ini kondisi tanah di dukuh itu labil dan terus bergerak,” kata Sarwa, Senin (12/12/2011) di Kudus.

Ia berharap pemerintah daerah penerima dana menggunakan dana itu tepat sasaran atau sesuai peruntukkannya. Jangan sampai dana untuk masyarakat itu justru diselewengkan atau digelapkan.

Pemkab Kudus pada tahun ini cuma mengalokasikan dana Rp 81 juta untuk piket dan penangananan tanggap darurat bencana. Dana itu berada di pos Seksi Perlindungan Masyarakat Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Kudus.

Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat Kesbangpolinmas Kabupaten Kudus, Atok Darmobroto mengemukakan, pada tahun ini dana yang diterima untuk tanggap darurat hanya Rp 81 juta. “Kalau dananya hanya sebanyak itu, ketika ada bencana besar kami jadi kebingungan. Padahal setiap tahun di Kudus selalu terjadi banjir dan longsor,” katanya.

Kantor Kesbanglinmas Kabupaten Kudus mencatat ada 41 desa di sembilan kecamatan yang rawan banjir dan tiga desa di dua kecamatan yang rawan longsor.

Di Pati, Kepala Kantor Kesbangpolinmas Pati Sigit Hartoko berharap pemerintah menyetujui dan segera mencairkan dana penanganan bencana. Pasalnya masyarakat 10 desa korban banjir bandang membutuhkan dana itu untuk membangun jembatan darurat dan memperbaiki rumah rusak.

 

BENCANA ALAM

Kebakaran liar, salah satu bencana yang disebabkan oleh alam.

Image

Bencana alam adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia.[1] Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai salju, kekeringan, hujan es, gelombang panas, hurikan, badai tropis, taifun, tornado, kebakaran liar dan wabah penyakit.[2] Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami.[2] Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam.[2] Dua jenis bencana alam yang diakibatkan dari luar angkasa jarang mempengaruhi manusia, seperti asteroid dan badai matahari.[2]

 

Pengertian dalam kebudayaan manusia dan pemahaman religius

Sejak masa lalu manusia telah menghadapi bencana alam yang berulang kali melenyapkan populasi mereka.[3] Pada zaman dahulu, manusia sangat rentan akan dampak bencana alam dikarenakan keyakinan bahwa bencana alam adalah hukuman dan simbol kemarahan dewa-dewa.[4] Semua peradaban kuno menghubungkan lingkungan tempat tinggal mereka dengan dewa atau tuhan yang dianggap manusia dapat memberikan kemakmuran maupun kehancuran.[4] Kata bencana dalam Bahasa Inggris “disaster” berasal dari kata Bahasa Latin “dis” yang bermakna “buruk” atau “kemalangan” dan “aster” yang bermakna “dari bintang-bintang”.[1] Kedua kata tersebut jika dikombinasikan akan menghasilkan arti “kemalangan yang terjadi di bawah bintang”, yang berasal dari keyakinan bahwa bintang dapat memprediksi suatu kejadian termasuk peristiwa yang buruk.[1]

Bencana alam sepanjang masa

Zaman kuno

The Last Day of Pompeii (1833), lukisan karya Karl Briullov yang menceritakan letusan Gunung Vesuvius di Pompeii, tahun 79.

Bencana alam yang dialami oleh manusia pada masa kuno tercatat dalam kitab suci, mitos, cerita-cerita rakyat,[5] Bencana alam yang terjadi di zaman kuno umumnya diketahui secara jelas lewat catatan sejarah dan hasil penelitian arkeologi.[6] Beberapa di antaranya:

  • Wabah Antonine, penyakit yang menyebar pada masa Kekaisaran Romawi tahun 165 M -189 M.[3] Dinamakan demikian karena salah satu korbannya adalah Marcus Aurelius Antoninus, kaisar Romawi. Dinamakan juga Demam Galen karena didokumentasikan dengan baik oleh Galen, seorang dokter Yunani.[3] Sejarawan meyakini bahwa Demam Antonine tidak lain adalah wabah cacar air yang dibawa oleh para serdadu Romawi yang pulang berperang dari timur.[3] Akibat wabah ini lebih dari 5 juta orang tewas di Kekaisaran Romawi.[3] Seorang sejarawan bernama Dio Cassius menulis bahwa di Roma sendiri, hampir 2000 orang meninggal setiap harinya.[3]
  • Letusan Gunung Vesuvius, terjadi pada tanggal 29 Agustus 79 di Teluk Napoli, Italia. Banjir lahar yang ditimbulkan Gunung Vesuvius mengubur kota Pompeii dan Herculaneum yang berdekatan.[7] Awalnya dimulai dengan gempa bumi namun diabaikan oleh warga kota tersebut.[7] Namun akhirnya menjadi lebih besar diiringi muntahan debu, banjir lahar dan asap yang membumbung tinggi.[7] Kota Pompeii dan Herculaneum ditemukan pada tahun 1631 setelah dilakukannya pembersihan oleh warga setempat. Pada abad ke-20, keberadaan kota ini secara jelas terkuak dengan jasad-jasad manusia yang telah menjadi fosil utuh.[7]
  • Erupsi Santorini, terjadi sekitar tahun 1645 SM.[8] Informasi bencana alam ini umumnya diketahui lewat penelitian arkeologi.[8] Diketahui bahwa tahun 1645 SM, gunung berapi yang meletus di Santorini menghancurkan permukiman di pulau tersebut beserta Pulau Kreta di dekatnya.[8] Pada zaman moderen, sisa-sisa peradaban manusia yang lenyap akibat bencana tersebut telah ditemukan dan masih terus dipelajari.[8]

Bencana alam di abad ke-20 sampai 21

 

 

Pemanasan Global karena suhu yang meningkat drastis selama tahun 2000-2009.

Pada abad ke-20, beberapa bencana alam yang paling umum adalah kelaparan dan wabah.[2] Sejak awal abad ke-20, lebih dari 70 juta orang tewas akibat kelaparan, dengan korban 30 juta orang tewas selama masa kelaparan di Cina dari tahun 1958-1961.[2] Di Uni Soviet, beberapa kali terjadi kelaparan yang diakibatkan kebijakan kolektif Stalin yang membunuh jutaan orang.[2] Dalam sejarah, kelaparan telah mengakibatkan munculnya sifat buruk manusia seperti kekejaman dan kanibalisme.[2] Bencana alam terburuk lainnya pada abad ke-20 adalah wabah.[2] Pandemi terburuk terutama adalah menularnya Flu Spanyol di seluruh dunia dari tahun 1918-1919 yang membunuh 50 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia I yang terjadi sebelumnya.[2]

Pada abad ke-21, bencana alam yang semakin banyak terjadi adalah bencana terkait iklim yang disebabkan meningkatnya suhu bumi (pemanasan global).[10] Pemanasan global sebagian besar diikuti banjir, kekeringan, cuaca ekstrim dan musim yang tak bisa diramal.[10] Perubahan iklim berpotensi meningkatkan kemiskinan dan kerentanan dalam jumlah besar.[10] Pada saat yang sama bencana iklim semakin meningkat, lebih banyak manusia yang terkena dampaknya dikarenakan kemiskinan, kurangnya sumber daya, pertumbuhan populasi, pergerakan dan penempatan manusia ke daerah yang tidak menguntungkan.[10]

Jenis bencana alam

Hurikan Katrina, 2005.

Bencana alam dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu bencana alam yang bersifat meteorologis, bencana alam yang bersifat geologis, wabah dan bencana ruang angkasa.[2]

Bencana alam meteorologi

Bencana alam meteorologi atau hidrometeorologi berhubungan dengan iklim.[11] Bencana ini umumnya tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus, walaupun ada daerah-daerah yang menderita banjir musiman, kekeringan atau badai tropis (siklon, hurikan, taifun) dikenal terjadi pada daerah-daerah tertentu.[11] Bencana alam bersifat meteorologis seperti banjir dan kekeringan merupakan bencana alam yang paling banyak terjadi di seluruh dunia.[11] Beberapa di antaranya hanya terjadi suatu wilayah dengan iklim tertentu.[11] Misalnya hurikan terjadi hanya di Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara.[4] Kekhawatiran terbesar pada abad moderen adalah bencana yang disebabkan oleh pemanasan global.[11]

Bencana alam geologi

Letusan Gunung Merapi.

Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan gunung meletus.[11] Gempa bumi dan gunung meletus terjadi di hanya sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng tektonik di darat atau lantai samudera.[11] Contoh bencana alam geologi yang paling umum adalah gempa bumi, tsunami dan gunung meletus.[11] Gempa bumi terjadi karena gerakan lempeng tektonik.[11] Gempa bumi pada lantai samudera dapat memicu gelombang tsunami ke pesisir-pesisir yang jauh.[11] Gelombang yang disebabkan oleh peristiwa seismik memuncak pada ketinggian kurang dari 1 meter di laut lepas namun bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam.[11] Jadi saat mencapai perairan dangkal, tinggi gelombang dapat melampaui 10 meter.[11] Gunung meletus diawali oleh suatu periode aktivitas vulkanis seperti hujan abu, semburan gas beracun, banjir lahar dan muntahan batu-batuan.[11] Aliran lahar dapat berupa banjir lumpur atau kombinasi lumpur dan debu yang disebabkan mencairnya salju di puncak gunung, atau dapat disebabkan hujan lebat dan akumulasi material yang tidak stabil.[11]

Wabah

Wabah atau epidemi adalah penyakit menular yang menyebar melalui populasi manusia di dalam ruang lingkup yang besar, misalnya antar negara atau seluruh dunia.[12] Contoh wabah terburuk yang memakan korban jiwa jumlah besar adalah pandemi flu, cacar dan tuberkulosis.[12]

Bencana alam dari ruang angkasa

Bencana dari ruang angkasa adalah datangnya berbagai benda langit seperti asteroid atau gangguan badai matahari.[13] Meskipun dampak langsung asteroid yang berukuran kecil tidak berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga berkemungkinan besar untuk menabrak bumi.[13] Bencana ruang angkasa seperti asteroid dapat menjadi ancaman bagi negara-negara dengan penduduk yang banyak seperti Cina, India, Amerika Serikat, Jepang, dan Asia Tenggara.[13]

Dampak bencana alam

 

 

Kehancuran fasilitas akibat Gempa bumi Haiti 2010.

Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosial dan lingkungan.[14] Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas, sementara kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi daratan.[14] Salah satu bencana alam yang paling menimbulkan dampak paling besar, misalnya gempa bumi, selama 5 abad terakhir, telah menyebabkan lebih dari 5 juta orang tewas, 20 kali lebih banyak daripada korban gunung meletus.[11] Dalam hitungan detik dan menit, jumlah besar luka-luka yang sebagian besar tidak menyebabkan kematian, membutuhkan pertolongan medis segera dari fasilitas kesehatan yang seringkali tidak siap, rusak, runtuh karena gempa.[11] Bencana seperti tanah longsor pun dapat memakan korban yang signifikan pada komunitas manusia karena mencakup suatu wilayah tanpa ada peringatan terlebih dahulu dan dapat dipicu oleh bencana alam lain terutama gempa bumi, letusan gunung berapi, hujan lebat atau topan.[4]

Manusia dianggap tidak berdaya pada bencana alam, bahkan sejak awal peradabannya.[3] Ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen darurat menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan, struktural dan korban jiwa.[15]. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan manusia untuk mencegah dan menghindari bencana serta daya tahannya.[15] Menurut Bankoff (2003): “bencana muncul bila bertemu dengan ketidakberdayaan”.[15] Artinya adalah aktivitas alam yang berbahaya dapat berubah menjadi bencana alam apabila manusia tidak memiliki daya tahan yang kuat.[15]

Penanggulangan

 

 

Konstruksi rumah yang menggunakan sistem pegas untuk persiapan terjadinya gempa bumi.

Penanggulangan bencana alam atau mitigasi adalah upaya berkelanjutan untuk mengurangi dampak bencana terhadap manusia dan harta benda.[16] Lebih sedikit orang dan komunitas yang akan terkena dampak bencana alam dengan menggerakan program ini.[16] Perbedaan tingkat bencana yang dapat merusak dapat diatasi dengan menggerakan program mitigasi yang berbeda-beda sesuai dengan sifat masing-masing bencana alam.[16]

Persiapan menghadapi bencana alam termasuk semua aktivitas yang dilakukan sebelum terdeteksinya tanda-tanda bencana agar bisa memfasilitasi pemakaian sumber daya alam yang tersedia, meminta bantuan dan serta rencana rehabilitasi dalam cara dan kemungkinan yang paling baik.[16] Kesiapan menghadapi bencana alam dimulai dari level komunitas lokal.[16] Jika sumber daya lokal kurang mencukupi, maka daerah tersebut dapat meminta bantuan ke tingkat nasional dan internasional.[16]

Pada wilayah-wilayah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (“hazard”), memiliki kerentanan/kerawanan (“vulnerability'”), bencana alam tidak memberi dampak yang luas jika masyarakat setempat memiliki ketahanan terhadap bencana (“disaster resilience”).[15] Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah dan menangani tantangan-tantangan serius dari bencana alam.[15] Sistem ini memperkuat daerah rawan bencana yang memiliki jumlah penduduk yang besar.[15]

Bencana alam di Indonesia dan penanggulangannya

Meulaboh, Aceh, pasca Gempa bumi Samudra Hindia 2004.

Indonesia merupakan negara yang sangat rawan dengan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir dan angin puting beliung.[17] Sekitar 13 persen gunung berapi dunia yang berada di kepulauan Indonesia berpotensi menimbulkan bencana alam dengan intensitas dan kekuatan yang berbeda-beda.[17]

Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia pada tahun 2004 yang memakan banyak korban jiwa di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara memaksa diadakannya upaya cepat untuk mendidik masyarakat agar dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi bencana alam.[17] Namun, upaya yang dilaksanakan tidak efektif karena persiapan menghadapi bencana alam belum menjadi mata pelajaran pokok dalam kurikulum di Indonesia.[17] Materi-materi pendidikan yang berhubungan dengan bencana alam juga tidak banyak.[17]

Laporan Bencana Asia Pasifik 2010 menyatakan bahwa masyarakat di kawasan Asia Pasifik 4 kali lebih rentan terkena dampak bencana alam dibanding masyarakat di wilayah Afrika dan 25 kali lebih rentan daripada di Amerika Utara dan Eropa.[18] Laporan PBB tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 18 juta jiwa terkena dampak bencana alam di Indonesia dari tahun 1980 sampai 2009.[18] Dari laporan yang sama Indonesia mendapat peringkat 4 sebagai salah satu negara yang paling rentan terkena dampak bencana alam di Asia Pasifik dari tahun 1980-2009.[18] Laporan Penilaian Global Tahun 2009 pada Reduksi Resiko Bencana juga memberikan peringkat yang tinggi untuk Indonesia pada level pengaruh bencana terhadap manusia – peringkat 3 dari 153 untuk gempa bumi dan 1 dari 265 untuk tsunami.[18]

Walaupun perkembangan manajemen bencana di Indonesia meningkat pesat sejak bencana tsunami tahun 2004, berbagai bencana alam yang terjadi selanjutnya menunjukkan diperlukannya perbaikan yang lebih signifikan.[18] Daerah-daerah yang rentan bencana alam masih lemah dalam aplikasi sistem peringatan dini, kewasapadaan resiko bencana dan kecakapan manajemen bencana.[18] Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia yang dimulai tahun 2005, masih dalam tahap pengembangan.[18]

Menurut kebijakan pemerintah Indonesia, para pejabat daerah dan provinsi diharuskan berada di garis depan dalam manajemen bencana alam.[18] Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan tentara dapat membantu pada saat yang dibutuhkan.[18] Namun, kebijakan tersebut belum menciptakan perubahan sistematis di tingkat lokal.[18] Badan penanggulangan bencana daerah direncanakan di semua provinsi namun baru didirikan di 18 daerah.[18] Selain itu, kelemahan manajemen bencana di Indonesia salah satunya dikarenakan kurangnya sumber daya dan kecakapan pemerintah daerah yang masih bergantung kepada pemerintah pusat.[18]

Tsunami Aceh: Thermonuklir atau Bencana Alam

Senin, 31 Mei 2010

Image

Tragedi tsunami di Aceh telah 5 tahun berlalu, bencana alam terbesar ini telah menewaskan ratusan ribu jiwa, jutaan rumah rata dengan tanah, bumi Aceh seperti ladang yang hanya berisi sampah reruntuhan dan mayat yang berserakan. Gulungan ombak itu seolah melenyapkan kehidupan di sana. Seluruh dunia turut berduka dalam tragedi tersebut.

Sebagian besar orang menganggap musibah ini adalah bencana alam. Sebabnya adalah lempeng bumi di belahan Sumatera yang mengalami pergeseran dan menimbulkan patahan sehingga terjadilah gelombang tsunami yang diawali dengan gempa bumi yang berkekuatan 6,8 skala richter menurut catatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Berbeda dengan catatan yang diberikan oleh NOAA Amerika Serikat yang mencatat bahwa kekuatan gempa mula-mula sebesar 8.0 SR kemudian diralat menjadi 8.5 SR lalu diralat lagi menjadi 8.9 SR sampai akhirnya NOAA menetapkan bahwa kekuatan gempa yang menimpa Aceh saat terjadinya tsunami adalah sebesar 9.0 SR.Perbedaan mengenai kekuatan gempa Aceh ini bagi sebagian kecil orang menjadi sebuah kecurigaan. Mereka menganggap ada skenario dibalik tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Seorang dosen Fakultas Tekhnik Unisba Bandung, M.Dzikron A.M termasuk ke dalam sebagian kecil orang yang mencurigai musibah yang melanda Aceh. Tak lain musibah itu diduga adalah skenario dari negara adidaya.

Selain adanya perbedaan mengenai catatan kekuatan gempa, faktor lain yang menguatkan bahwa tsunami Aceh merupakan tsunami buatan manusia adalah perbedaan mengenai letak Epicentrum (pusat gempa pada permukaan bumi). Australia merekam Magnitudo dan posisi Epicentrum sesuai dengan yang ditentukan oleh kantor Geofisika Jakarta yaitu gempa berukuran 6,4 pada Skala Richter menimpa utara pulau Sumatera. Titik gempa berada di 155 mil selatan-tenggara Provinsi Aceh. Lokasi ini berbeda 250 mil dari posisi yang ditentukan oleh NOAA Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa Epicentrum berada di barat daya Provinsi Aceh.

Selain itu Indonesia dan India juga merasakan keanehan tentang tidak adanya gempa ‘peringatan’ pada Seismograf mereka. Hal ini berarti bahwa gelombang kejut normal yang selalu mendahului sebelum gempa terjadi itu tidak ada. Namun NOAA menyatakan menerima ‘peringatan’ mengenai adanya gempa susulan, tetapi sama sekali tidak terjadi. Secara sederhana, gempa selalu dipicu oleh apa yang disebut frekuensi elektromagnetik pada 0,5 atau 12 Hertz, dan bukan merupakan sebuah proses yang terjadi secara mendadak.

Maka ketika resonansi karena frekuensi ini terjadi, pusat gempa akan mulai bergetar, dan mengirimkan peringatan adanya gempa kepada semua Seismograf dalam bentuk gelombang transversal (tegak). Jika gelombang yang diterima oleh Seismograf adalah gelombang P, maka yang dihadapi adalah gelombang akibat gempa bawah tanah atau bawah laut. Nyatanya gelombang inilah yang diterima oleh Indonesia dan India. Gelombang ini secara mengejutkan sangat mirip dengan gelombang yang dihasilkan beberapa tahun lalu oleh senjata nuklir skala besar di bawah tanah di Nevada.

Menyadari keanehan yang terjadi itu, pada tanggal 27 Desember 2004, India menolak untuk bergabung dalam rencana ekslusif Presiden George Bush yang akan menarik semua kekuatan Nuklir Asia dari koalisi baru dengan Rusia, Cina, dan Brazil.

Selain itu juga keanehan yang dapat kita saksikan secara langsung dengan mata kepala adalah kondisi mayat-mayat korban tsunami Aceh tersebut mati dengan keadaan yang hangus/hitam sejak hari pertama tsunami. Mungkinkah gelombang air laut dapat membuat tubuh manusia menjadi hitam dalam seketika, rasanya sungguh tidak masuk akal, hanya Allah maha tau segala-galanya.

Satu hal yang sangat penting untuk diketahui bahwa sesungguhnya gelombang tsunami hanya merupakan gelombang pelabuhan, sesuai dengan namanya yang berasal dari Jepang yaitu TSU yang berarti pelabuhan dan NAMI yang berarti gelombang. Jadi sedahsyat-dahsyatnya gelombang tsunami mestinya hanya akan melanda daerah sekitar pelabuhan atau pantai saja. Rasanya tidak mungkin gelombang laut tersebut sampai masuk ke daerah perkotaan seperti yang terjadi di kota Banda Aceh hingga radius 7-9 Km dari bibir pantai Ulhee Lhee sampai ke Mesjid Raya Baiturrahman yang berada di pusat kota.

Tentunya kita bertanya dengan alat secanggih apa yang bisa membuat bencana sedahsyat tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam tersebut. Hanya ada satu jawaban yang paling mungkin, yaitu dengan menggunakan Bom Nuklir. Bom yang pernah meluluhlantakkan kota Hirosima dan kota Nagasaki rata dengan tanah.

Bom itu diduga Thermonuklir, tak lain adalah nuklir yang dapat mengakibatkan ledakan dan menimbulkan gelombang laut yang maha dahsyat tersebut. Tiga bulan pasca tsunami, Provinsi Aceh dikepung oleh kapal induk milik AS yang diduga memiliki tujuan agar para peneliti tidak mendekati perairan Aceh dan mereka bisa membersihkan puing-puing sisa bom nuklir tersebut. Akan tetapi 2 bulan pasca tsunami yang melanda Aceh ditemukan sampah nuklir berserakan di Somalia, seperti yang diungkapkan oleh UNEP.

Namun Radio Voice Of America (VOA) mengklaim bahwa sampah nuklir itu berasal dari Eropa. Padahal pada tahun 1972 PBB telah mengeluarkan peraturan yang melarang membuang sampah nuklir ke laut, tetapi mengapa justru ditemukan adanya sampah nuklir di perairan Somalia saat itu.

M. Dzikron A.M mengungkapkan pendapatnya mengenai adanya tsunami buatan ini dikarenakan oleh beberapa faktor. Yang menjadi faktor utamanya diduga berkaitan dengan motif ekonomi. Seperti kita ketahui bahwa Provinsi Aceh merupakan daerah yang menyimpan kandungan gas alam yang sangat banyak, untuk mengelabui warga Aceh sejak dahulu para peng-eksplore gas selalu menyebutkan bahwa cadangan gas Aceh hanya tersisa sedikt.

Aceh selain kaya akan kandungan gas, juga menyimpan cadangan minyak dan emas. Kawasan ini memang terkenal sangat kaya dengan sumber kekayaan alam. Ada Negara-negara besar yang tentunya ingin mempertahankan dan memperluas kekuasaannya dikawasan ini. Bisa jadi salah satu jalan yang ditempuh dengan melenyapkan sebahagian warga Aceh, yang selama ini dianggap mengancam keberadaan perusahaan minyak dan gas lantaran Provinsi Aceh terus mendesak tuntutannya agar diberi hak yang lebih besar terkait kekayaan alam di wilayahnya.

Karena demikian kompleksnya tanda-tanda yang muncul sehingga sulit untuk membedakan tsunami yang terjadi di Aceh adalah tsunami yang disebabkan oleh alam ataukah sebuah bencana yang memang diciptakan oleh tangan-tangan yang mempunyai kepentingan. Tapi mari kita sejenak mengingat janji Allah dalam Alquran Surat Ar-Rum ayat 41, bahwa Allah telah berfirman “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Banyak orang tak percaya Tsunami yang meluluhlantakan Aceh dan Nias di Sumatera Utara itu akibat rekayasa manusia. Mereka tidak percaya ada Negara besar yang mampu merekayasa bencana alam sedahsyat itu. Ada juga yang skeptis penggunaan energi Nuklir pasti menimbulkan efek lain, yaitu radiasi yang membawa banyak efek negatif bagi lingkungan maupun manusia di lokasi bencana. Siapa yang kenal nuklir dan efeknya sebelum terjadi di Hiroshima dan Nagasaki? Maka teori Tsunami akibat Nuklir pun dapat disikapi secara sama.

Secara teoritis, Warhead Thermonuklir W-53 dengan kekuatan 9 megaton dapat dengan mudah ditempatkan dalam wadah yang mirip diving chamber (alat selam dalam) yang biasanya digunakan dalam eksploitasi minyak. Wadah ini sekaligus melindunginya dari tekanan sebesar 10.000 pon per inchi persegi di dasar palung laut dalam. Bobot total berikut wadahnya kurang dari lima ton, sehingga dapat dijatuhkan dari buritan kapal suplai anjungan pengeboran minyak lepas pantai.

Di Asia terdapat lebih dari 300 anjungan. Siapa yang tahu jika salah satu dari anjungan itu dipilih menjadi tempat titik Episentrum gempa buatan itu? Kedua, yang lebih masuk akal, senjata yang digunakan bukan nuklir melainkan senjata SCALAR. Teknologi senjata baru ini memang berpotensi memanipulasi fenomena alam untuk menghancurkan musuh. Dari gempa bumi hingga angin topan dapat ditimbulkan dengan tembakan gelombang elektromagnetik berkekuatan sangat tinggi. Lebih logis jika senjata SCALAR ini yang mungkin digunakan untuk menimbulkan gempa besar yang memicu Tsunami Asia.

Tapi yang jelas,skenario menggunakan senjata yang mampu melakukan modifikasi lingkungan dan manipulasi fenomena alam, memang sangat canggih. Dengan menggunakan SCALAR, taktik “lempar batu sembunyi tangan” dapat diubah lebih efektif menjadi “lempar batu, datang, kasi bantuan dan jadi tuan”.

Teknologi perusak berbasis gelombang elektromagnetik pertama kali dikenalkan saintis Rusia Nikola Tesla. Saintis ini menjadikan bencana gempa di berbagai negara pada 1937 sebagai sampel penelitian. Selanjutnya, Tesla melakukan penelitian mengenai penciptaan alat yang mampu memunculkan gelombang frekuensi tinggi yang bisa memicu badai dan gempa tektonik. Setelah melalui berbagai penyempurnaan, alat itu mampu mengalahkan kekuatan Nuklir. Belakangan senjata pemusnah massal itu dikenal sebagai elektromangnetik SCALAR.

Dalam bukunya “The Latest Weapon of War” (2000), Dr Rosalie Bertell, menyatakan bumi bisa digunakan sebagai alat baru untuk memenangkan “peperangan”. Bumi bisa digoncangkan dengan alat berteknologi tinggi. Secara tegas Bertell berkata, dalam persenjataan tentara AS senjata terkininya adalah bumi dan cuaca. “keduanya akan menjadi senjata pemusnah terburuk menjelang 2025” kata Bertell. Senjata elektromagnetik bisa memunculkan ledakan yang seperti halnya gempa bumi. Tentu saja kekuatan ini jauh melebihi kedashyatan senjata nuklir yang dikenal sebagai senjata pemusnahan massal.

Menurut Bertell, AS sudah melakukan uji coba sejak puluhan tahun lalu. Negeri Paman Sam pernah menggunakan gelombang elektromagnetik dan bahan kimia untuk melubangi ozon atmosfir di ruang udara beberapa negara asia. Ketika itu AS menggunakan Barium dan Lithium yang “dikirim” ke lapisan ozon dengan bantuan gelombang elektromagnetik. Tak heran jika antara periode 1980 hingga 1990, dilangit Amerika Utara sering muncul cahaya berpendar.

Uji coba itu menyebabkan gangguan luar biasa pada cuaca di seluruh dunia. “antara 1960-an hingga 1990-an, kadar bencana alam yang besar meningkat 10 kali lipat,” Kata Bertell. Fenomena El Nino antara 1997 hingga 1998 yang disebut-sebut banyak ahli sebagai penyebab kekacauan cuaca diseluruh dunia, sejatinya, didahului gangguan besar dan ketidakstabilan iklim di satu tahun sebelumnya. Pada 1996, terjadi banjir besar di Asia Selatan, Nepal, India dan Bangladesh. Demikian juga di Cina. Bencana terbesar terjadi di Kanada. Negara itu dihajar badai Tornado dan banjir.

Teori Bertell didukung Michel Chossudovsky yang berprofesi sebagai analis persenjataan global. Bahkan secara terang-terangan Chossudovsky menuduh Pentagon sudah lama berkecimpung dalam memanipulasi cuaca. April 1997, menurut Menhan William Cohen, AS terpaksa menghadapi serangan senjata perubah cuaca dengan senjata sejenis. Demikian juga dengan penggunaan gelombang elektromagnetik pemicu gempa. Washington kini menerapkan orde baru persenjataanya yang mempunyai kemampuan untuk merubah cuaca.” Kata Chossudovsky. Ini sekaligus menjadi jawaban mengapa presiden George Bush tidak mau menandatangani protokol Kyoto. Sebuah perjanjian antar bangsa mengenai kaidah pencegahan pemanasan global dan pemulihan alam.

Salah seorang pakar dari Phillips Geophysis yang bekerja dalam proyek HAARP (High Altitude Atmospheric Research Project) juga pernah mengungkapkan adanya riset yang diarahkan untuk menciptakan perangkat-perangkat pemicu bencana alam. Untuk mendukung kemampuan SCALAR-nya, AS menggunakan gelombang elektromagnetik berfrekuensi sangat rendah (Extremely Low Frequency atau ELF ) yang mampu menembus lapisan tanah dan lautan hingga ratusan kilometer di dalam perut bumi. Melalui modifikasi khusus, Gelombang itu mampu menggerakan lempeng tektonik bumi.

Menurut Dr Rosalie Bertell, seorang pengamat persenjataan non konvesional, gempa bumi yang ditimbulkan oleh ELF akan terkait dengan ionosfir (atmosfir yang berjarak 80-600 km dari permukaan bumi). Tak heran jika gempa bumi Tang Shan di China pada 28 Juli 1976, terjadi setelah muncul kilatan cahaya di langit China. Fenomena itu muncul akibat gelombang ELF, yang telah ditembakkan Amerika Serikat, setelah memanaskan ionosfir.

Munculnya kilatan cahaya juga terjadi pada gempa Aceh, Nias, Jogja, dan Pangandaran. Hal yang sama juga muncul pada 17 Oktober 1989, ketika gempa besar melanda San Francisco. Demikian juga gempa di California tanggal 12 September 1989. Harian Washington Post pada Maret 1992 meliris berita mengenai tertangkapnya gelombang radio misterius oleh sejumlah satelit dan radar menjelang terjadi gempa besar di beberapa negara antara tahun 1986-1989. Gempa-gempa itu terjadi di California, Amerika, dan Jepang. Gempa bumi yang menggoyang Los Angeles pada 17 Januari 1994 juga didahului dengan gelombang radio dan dua letusan hipersonik.

Menyikapi fenomena kilatan cahaya yang selalu mendahului terjadinya gempa, pada tahun 1997 Pentagon mengeluarkan sinyalemen, telah terjadi ancaman bagi keamanan dunia menggunakan senjata pemanipulasi cuaca, pencetus gempa bumi dan peletusan gunung api dari jarak jauh dengan menggunakan gelombang elektromagnetik.

Sebelumnya, pada pertengahan Juli 1996, sejumlah negara diguncang gempa. Yakni wilayah pegunungan Alpens Prancis, Austria, selatan Italia, timur laut India, Jepang, Indonesia, semenanjung Kamchatka dan selatan Mexico. Bahkan di New Zealand sebuah gunung berapi meletus.
Menurut sebuah sumber, AS pernah menghantam Korea Utara dan Kuba dengan senjata pengacau cuaca. Tujuannya, kemusnahan ekonomi, ekosistem serta pertanian. Upaya ini berhasil. Korea Utara dan Kuba pernah mengalami krisis akibat kacaunya cuaca di negaranya.

Bagaimana yang terjadi terhadap Indonesia? Situs Conspiracy News, menurunkan satu liris yang mengejutkan terkait bencana di Aceh. Di situs itu disebutkan, setelah 9 hari bencana Aceh terjadi George Bush mengeluarkan instruksi AS harus menguasai seluruh lautan dunia, untuk tujuan keselamatan dan pembangunan Aceh.

Sebuah fakta disodorkan. Sebelum gempa menggoyang Aceh, Australia dan pangkalan AS di Diego Garcia sudah mendapat informasi soal akan terjadinya gempa dan tsunami. walhasil, ketika tsunami menyapu, pangkalan militer tempat bersandarnya super tanker KC-135 itu sama sekali tidak terusik. Padahal jelas-jelas pangkalan yang dihuni dua ribu lebih personil militer itu berada di Samudera Hindia. Diego Garcia (pulau yang disewa AS dari pemerintah Inggris) yang jaraknya tidak jauh dari pusat gempa bumi dilaporkan hanya mengalami gelombang ombak setinggi 6 kaki saja.

Kita boleh percaya ataupun tidak terhadap analisis M.Dzikron A.M, dosen Fakultas Teknik Unisba Bandung ini, namun yang pasti marilah kita selalu berserah diri kepada Allah SWT yang menguasai atas alam dan seluruh isinya, mudah-mudahan Tsunami yang terjadi Aceh pada 26 Desember 2004 lalu adalah benar-benar sebuah peristiwa bencana alam, bukan bencana karena rekayasa tangan manusia.

PENANGANAN BENCANA ALAM SELAMA TAHUN 2007

Dikirim oleh slamet – pada Monday, 18 February 2008

Image

I. Kondisi umum Indonesia negara rawan bencana, :
Berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia (lempeng Eurasia, India Australia, Samudera Pacific).
Berada pada pertemuan tiga sistem pegunungan (Alpine Sunda, Cir***** Pacific dan Cir***** Australia).- lebih 500 gunung api (128 aktif) Negara kepulauan, 2/3 air, 500 sungai besar dan kecil (30 % melintas padat penduduk) Tata ruang belum tertib, penyimpangan pemanfaatan kekayaan alam. Jumlah penduduk yang besar dan tidak merata, keaneka ragaman suku, agama, adat, budaya, golongan. Sebanyak 383 kab / kota merupakan daerah rawan bencana alam dari 440 kabupaten/kota.

I. Data kejadian bencana alam •
Tahun 2005
Frekuensi bencana : 281 kali
Korban meninggal : 1.462 orang
Menderita : 125.537 kk/953.097 jiwa
Kerusakan rumah penduduk : 100.732 unit •
Tahun 2006
Frekuensi bencana : 343 kali
Korban meninggal : 10.292 orang
Menderita : 2.840.159 kk
Kerusakan rumah penduduk : 337.499 unit •
Tahun 2007
Frekuensi bencana : 342 kali
Korban meninggal : 888 orang
Menderita : 2.122.476 kk
Kerusakan rumah penduduk : 107.503 unit

Koordinasi Lintas Sektor Dalam Penanggulangan Bencana
1. Tahap KesiapsiagaanSeluruh kegiatan yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan mitigasi dalam rangka pengurangan resiko bencana di masing2 sektor.
2. Tahap tanggap daruratKegiatan yang berkjaitan dengan sar, evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis, kebutuhan kesehatan, kebutuahan keamanan
3. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi
Kegiatan yang berkaitan dengan rehabilitasi fisik, psikis dan sosial (korban rumah dan pemerintahan serta fasilitas umum)

II. Realisasi program 2007 Pusat
Bantuan bahan bangunan rumah (BBR) sebanyak 11.024 KK
1. Sulawesi Utara (Sangihe Talaud, Bitung, Minahasa Utara) sebanyak 773 KK.
2. Sumatera Utara (Langkat, Madina, dan Humbang Hasundutan) sebanyak 2.038 KK.
3. Sumatera Barat (Solok) sebanyak 65 KK dan menyebar di seluruh kab/kota sebanyak 6.000 KK.
4. Jawa Barat (Kuningan) sebanyak 200 KK.
5. Jawa Tengah (Pemalang) sebanyak 239 KK.
6. Kalimantan Tengah (Kapuas) sebanyak 266 KK.
7. Gorontalo (Boalemo) sebanyak 150 KK.
8. NTT (Toli-toli Utara) sebanyak 112 KK dan (Toli-toli Selatan) sebanyak 34 KK.
9. NTB (Bima) sebanyak 40 KK.
10. Maluku (Buru) sebanyak 96 KK.
11. Maluku Utara (Halmahera Utara) sebanyak 57 KK.
12. Sulawesi Selatan (Sopeng) sebanyak 60 KK, (Palopo) sebanyak 32 KK, (Gowa) sebanyak 35 KK, dan (Maros) sebanyak 30 KK.
13. Sulawesi Tenggara (Kolaka) sebanyak 54 KK.
14. Sulawesi Tengah (Tojo Una-una) sebanyak 300 KK.
15. Papua (Jayapura) sebanyak 143 KK, (Waropen) sebanyak 292 KK.

Bantuan darurat bagi korban bencana alam
1. Lauk pauk sebanyak 47,500 Pkt
2. Sandang sebanyak 50,000 Pkt
3. Peralatan dapur keluarga sebanyak 50,000 Pkt
4. Beras sebanyak 7,562,786 Kg
5. Santunan meninggal dunia sebanyak 399 Jiwa di 8 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Sumatera Barat, NAD, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bengkulu.
6. Makanan tambahan sebanyak 100,000 Pkt
7. Family kit sebanyak 20,000 Pkt
8. Kidsware sebanyak 10,000 Pkt
9. Foodware sebanyak 10,000 Pkt
10. Pengepakan dan pengiriman

Pengerahan TAGANA dan Gladi Lapang Penanggulangan Bencana :
1. Pengerahanan Tagana penanganan banjir wilayah Jabodetabek sebanyak 250 orang yang berasal dari tagana Pusat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, unsur FK-PSM dan unsur ormas. Prov. DKI Jakarta, Jawa Barat (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi)
2. Pengarahan Tagana penanganan gempa bumi Sumatera Barat sebanyak 100 orang Sumatera Barat.
3. Gladi lapang penanggulangan bencana apel tagana se jawa di Semarang sebanyak 1.000 orang Jawa Tengah
4. Gladi lapang penanggulangan bencana apel tagana NAD dan Sumatera Utara di Banda Aceh sebanyak 800 orang.
5. Gladi lapang penanggulangan bencana apel tagana se Sumatera di Palembang sebanyak 1.000 orang.
6. Gladi lapang penanggulangan bencana apel tagana untuk wilayah Sulawesi, Kalimantan, Papua, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat di Makassar sebanyak 1.000 orang.
7. Gladi lapang penanggulangan bencana apel tagana utk wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur di Denpasar sebanyak 1.000 orang.
8. Pengerahan tagana penanganan banjir dan tanah longor di kabupaten Manggarai – NTT sebanyak 100 orang.
9. Pengerahan tagana penanganan banjir dan tanah longor di kabupaten Morowali – Sulteng sebanyak 50 orang.
10. Pengerahan tagana penanganan gempa bumi Bengkulu dan Sumatera Barat sebanyak 100 orang.
11. Pengerahan tagana penanganan gunung Kelud – Jawa Timur sebanyak 100 orang.

Bantuan evakuasi kit :
1. Tenda pleton sebanyak 1,000 Unit.
2. Tenda regu sebanyak 750 Unit.
3. Tenda medis lapangan sebanyak 2 Unit.
4. Tenda gulung sebanyak 12,000 Lbr.
5. Velbet sebanyak 10,000 Buah.
6. Genset sebanyak 200 unit.
7. Perahu karet lengkap dengan mesin sebanyak 26 Unit
8. Perahu evakuasi (dolphin) lengkap dengan trailer sebanyak 34 Unit
9. Water closed tenda posko sebanyak 66 Unit
10. Jaket pelampung sebanyak 1,800 Unit
11. Alat dapur umum lapangan sebanyak 100 Unit
12. Alat komunikasi lengkap (SSB) sebanyak 100 Unit

Bantuan mobilitas penanggulangan bencana.
1. Mobil dapur umum lapangan/Dumlap sebanyak 15 unit untuk kab/ kota rawan bencana alam
2. Mobil rescue tactical unit/ RTU sebanyak 37 unit untuk kab/kota rawan bencana alamPenyerahan kendaraan siaga bencana telah dilaksanakan pada tanggal 28 Desember 2007 kepada kabupaten / kota rawan bencana sesuai dengan tingkat kebutuhan.

Pelatihan tagana 2 angkatan di Pusat dan 18 angkatan di provinsi masing-masing angkatan sebanyak 70 orang, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, N A D, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, N T B, N T T, Bengkulu, Bangka Belitung dan Gorontalo.

Jumlah anggota Tagana tahun 2007 sebanyak 19.541 orang yang tersebar di 33 propinsi.Hasil pelaksanaan kegiatan prioritas tahun 2007Dekonsentrasi Kegiatan dekonsentrasi tahun 2007 :

A. Pemantapan sumber daya manusia
1. Pemantapan tagana sebanyak 85 angkatan yang tersebar di 33 provinsi.
2. Pemantapan instruktur PBA sebanyak 1 angkatan di Provinsi Jambi.
3. Pemantapan tim reaksi cepat sebanyak 4 angkatan di Jabar, Sumut dan Jambi (2 angkatan)
4. Pemantapan petugas posko sebanyak 2 angkatan di provinsi Jambi.
5. Pembinaan angin barat gugus pulau sebanyak 1 angkatan DKI Jakarta.
6. Pemantapan petugas Dapur Umum Lapangan sebanyak 12 angkatan di provinsi Sumut, Sumbar, Sumsel, Lampung, Kaltim, Sulsel, Sultra, Bali, NTB, NTT, Bengkulu, Babel.
7. Sosialisasi penanggulangan bencana sebanyak 2 angkatan di DKI Jakarta dan NTB.
8. Koordinasi 3 tungku sebanyak 35 angkatan di 29 provinsi kecuali Bali, Kepri, Irjabar dan Sulbar.

B. Bantuan darurat penanganan bencana alam
1. Lauk-pauk sebanyak 33 paket yang tersebat di 33 provinsi
2. Sandang sebanyak 3 paket di provinsi DI Yogya, Kepri, Sulbar.
3. Bak PAH (Penampungan Air Hujan) di provinsi DI Yogya.
4. Pengepakan dan angkutan barang bantuan penanggulangan bencana di provinsi Kalimantan Selatan.
5. Pembuatan Tower di provinsi Bali.
6. Pemulangan korban bencana alam di provinsi Kalimantan Selatan.

C. Bantuan rehabilitasi korban bencana alam
1. Bahan bangunan rumah (BBR) sebanyak 2.794 KK di 30 provinsi, kecuali DKI, Kepri dan Sulbar
2. Pemberdayaan sebanyak 2.702 KK di 29 provinsi keculai DKI, Gorontalo, Kepri dan Sulbar
3. Santunan di provinsi Kalsel.

ISU KIAMAT 2012

Image

Jika kita perhatikan sejak tahun 2008 silam hingga kini, bencana demi bencana terus terjadi mulai dari banjir bandang, angin puting beliung hingga gunung meletus,gempa bumi dan tsunami.Hal ini membuat saya berpikir apakah ini semua ada kaitanya dengan Ramalan Suku Maya tentang Bencana Besar 2012,atau yang sering di sebut-sebut sebagai kiamat 2012..? hmmm.. skenario telah di mulai.

Setelah membaca dari beberapa artikel saya menangkap bahwa bencana alam yang bertubi- tubi ahir ahir ini sedikit banyak merupakan dampak dari meningkatnya aktivitas ledakan partikel di permukaan matahari atau yang di sebut badai matahari.

Badai Matahari = Flare dan CME

Menurut ahli dari LAPAN, bahwa badai Matahari akan terjadi ketika adanya flare dan Corona Mass Ejection (CME). Apa itu Flare..? Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Padahal bom atom yang dijatuhkan Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS), B-29 Enola Gay,  Agustus 1945, telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Sedang CME adalah sejenis ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel2 berkecepatan tinggi yakni sekitar 400 km/detik.

Gangguan cuaca Matahari ini dapat mempengaruhi kondisi muatan antariksa hingga mempengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS), dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet Bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu.

Badai matahari merupakan siklus biasa yang terjadi setiap 11 tahun. Namun, siklus itu diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2012-2013. Badai matahari pernah melanda bumi pada 1 September 1859. Namun, kala itu tak terlalu berdampak karena kehidupan di masa itu belum ditopang listrik.

Potensi terbesar dari Kiamat 2012 adalah badai Matahari, dimana secara siklusnya pada rentang waktu 2011-2012 sunspot number Matahari memang mencapai puncaknya dan berkorelasi langsung dengan tingginya semburan proton energetik dari permukaan Matahari ke segala arah. Model -model matematis yang dikembangkan NASA menyebut badai Matahari ini akan menyamai peristiwa Carrington 1859 silam, dengan efek yang merusak terhadap sistem telekomunikasi, satelit dan kelistrikan. Sebagai gambaran, badai Matahari 1989 (yang kekuatannya mampu membelokkan arah jarum kompas hingga 7 derajat dari magnetic north) mengakibatkan kerusakan pada trafo listrik Ontario Hydro dan menyebabkan sebagian AS dan Kanada mengalami mati listrik hingga 9 jam. Dan dalam badai Matahari 2011-2012 (yang diperkirakan mampu membelokkan arah jarum kompas hingga 15 – 20 derajat), tentunya kerusakan itu bisa menjangkau daerah yang lebih jauh, bahkan hingga ekuator.

Jika badai matahari kali ini jauh lebih besar atau bahkan yang terbesar maka dampak yang di timbulkanya juga akan semakin jauh lebih besar. Partikel gas panas yang di lontarkan oleh matahari jika sampai ke atmosfir kita akan sangat berdampak pada  terjadinya Cuaca Extrim dan musim yang tidak menentu. Sedangkan jika terjadi gangguan pada magnet bumi akan mengakibatkan Bergesernya atau berubahnya kutub kutub bumi.  

Bumi kita adalah magnet besar, dengan kutub selatan dan utara. Sirkuit pendek dengan sorot sinar, atau magnet, dapat berakhir pada bencana pembalikan kutub. Ini artinya kutub utara akan bertukar tempat dengan kutub selatan. Tapi apa yang dapat menyebabkan ini? Kekuatan apa yang cukup kuat untuk menghentikan rotasi bumi dan membalikkan rotasinya?
Hanya satu yang dapat melakukan ini: yaitu Matahari.

 Di dalam buku , The Orion Prophecy, dikatakan bahwa medan magnet matahari mengalami perubahan drastis setiap 11500-12000 tahun. Begitu mencapai titik puncak, daya magnet tersebut akan berbalik secara instan. Kesemrawutan akan membarengi fenomena ini dan sebuah awan plasma yang sangat besar dan luas terlempar ke luar angkasa. Kemudian gelombang kejut partikel2nya mencapai planet kita dan terjadilah pembalikan kutub. hal inilah yang akan memicu terjadinya Gempa dahsyat , Sunami , dan bahkan Gunung meletus serta Badai yang mengerikan, belum lagi cuaca yang extrim akan bencana dan kelaparan.

Sebagai seorang muslim saya percaya Bahwa Kiamat Pasti akan Terjadi Namun Waktunya hanya Allah yang tahu. akan tetapi isu 2012 hendaknya kita tanggapi dengan positif . Karena kita juga mengenal Sunatullah atau hukum sebab akibat. Meskipun tidak terjadi kiamat namun  Kerusakan dan Bencana besar bagi bumi ini  bisa saja terjadi. Maka akan lebih bijaksananya kita menata diri dan semakin mendekatkan diri pada yang Maha Esa, Menyiapkan bekal Ahirat sebanyak mungkin ,Karena kiamat sughra ( kematian ) pun dapat terjadi pada kita tanpa kita tahu kapan dan dimana.

 

INFORMASI BENCANA ALAM

Hampir semua bencana alam akan elalu menewaskan banyak korban . Hal ini terjadi karena tidak adanya kesiapsiagaan ataupun pengetahuan yang memadai mengenai tanda-tanda bencana . Oleh karena itu , kita harus mampu bisa menyelamatkan diri dari bahaya bencana.
dengan memberikan informasi mengenai tanda-tanda bencana alam agar kita siap siaga dalam enghadapi bencana.
Memberikan informasi mengenai tanda-tanda bencana alam bisa dengan cara-cara berikut ini

  • Melalui pembuatan poster  

Cara ini sangat efektif dalam memberikan informasi tentang tanda-tanda bencana alam kepada masyarakat dengan membuat poster. Poster yang dibuat tentu harus kreatif dan berbeda dengan poster-poster yang lainnya agar tertarik untuk membacanya , penempelan posterpun tidak sembarang tempat artinya kita tempelkan poster ketempat yang banyak dilalui orang atau di daerah yang rawan bencana.

Image

Pembuatan Reklame di Depan Sekolah

pembuatan reklame di sekolah dapat dilakukan secara bersama-sama antar warga sekolah. Sebagai pelajar kita dapat mengikuti kegiatan OSIS , jadi OSIS yang harus mengkoordinir dalam kegiatan ini.

  •  Memberikan penyuluhan di lingkungan sekitar kita , melalui karang taruna

dengan kegiatan penyuluhan ini diharapkan masyrakat dapat mengetahui informasi lengkap tentang tanda-tanda tentang bencana alam,  karena di dalam kegiatan ini sasaran pemberian informasi adalah masih masyrakat disekitar karang taruna tersebut yang tentunya dengan tujuan agar masyrakat  mengetahui karakteristik masyarakat di tempat tersebut.